Ketika Nadira kembali ke Desa Waringin setelah kematian ayahnya, ia menemukan sebuah mesin ketik tua yang tertinggal di gudang rumah peninggalan keluarganya. Awalnya tampak seperti benda antik biasa, tetapi setiap malam mesin itu mengetik sendiri, menuliskan fragmen kisah pilu seorang guru yang hilang tiga puluh tahun lalu: Arman Widagdo. Teror semakin nyata ketika bayangan sosok pria berjas lusuh muncul di sekitar Nadira, seolah menuntut sesuatu. Dibantu sahabatnya, Bima, Nadira menyelidiki sekolah tua tempat Arman mengajar dan menemukan jejak kebohongan, korupsi, serta pengkhianatan yang selama ini ditutupi. Namun semakin dalam Nadira menggali kebenaran, semakin kuat pula ikatan roh Arman pada mesin ketik itu. Hingga akhirnya Nadira sadar: sebagian kebenaran hanya bisa dituliskan… dengan darah.






Reviews
There are no reviews yet.